Etnis
Etnis dan Tradisi di Desa Lemusa
Etnis Lore atau To Bada
Latar belakang sejarah Suku Lore di Bada sejak dahulu diperintah oleh seorang Tuana (Raja). Menurut data atau informasi yang didapatkan bahwa sebelum Suku Bada diperintah oleh raja yang dalam bahasa Bada disebut Tuana, etnis Bada hidup berkelompok di atas-atas bukit seperti di Tinoe dan Bulili.
Hingga pada suatu saat ketika turunlah seorang dari langit (kayangan) yang disebut Manuru yang menjadi Tuana (raja) pertama di wilayah Bada. Manuru yang menjelma menjadi manusia ini setelah beberapa tahun menjadi Tuana lalu mengambil gadis cantik dari Bulili untuk dijadikan istrinya dalam menjalankan tugas.
Adapun perkembangan suku Bada yang berada di Lemusa adalah karena orang Bada yang tinggal di tanah Bada mempunyai kebiasaan “ba rotan” atau mencari rotan, menjelajahi hutan, dan akhirnya tiba di Lemusa serta menetap di kampung itu. Versi sejarah lisan lain menyebut sebagai hadiah tanah pemberian raja dan adanya perkawinan.
Sekitar tahun 1926, pendahulu warga Bada bernama Tulobo dan suaminya Tauko Telao berjalan kaki dari Bada selama kurang lebih 2 minggu untuk datang di Lemusa mencari kehidupan, turun hingga ke Lemusa yang tidak begitu jauh dari pantai. Saat pertama kali tiba di Lemusa mereka memakan keladi yang dalam bahasa sehari-hari disebut Bete atau Ondo. Suami istri itu tinggal di Lemusa dan berkebun di sana, juga mengolah sawah, memanen padi dengan alat yang dalam bahasa Bada disebut Hindo atau dalam bahasa Indonesia disebut Ani-ani, alat tradisional yang terbuat dari besi berbentuk seperti pisau dengan gagang bambu. Kedatangan keduanya menjadi penanda bagi warga dari Bada di masa selanjutnya yang datang ke Lemusa dan tinggal hingga sekarang.
Sekitar tahun 1950-an, pada masa pemerintahan Kepala Kampung Eto Bombe, sebuah versi sejarah menyebut kisah Tolabo yang awalnya datang dari tanah Bada dengan maksud merantau. Tolabo mengawini seorang gadis dari Parigimpu, namun setelah istrinya meninggal Tolabo kembali pulang ke tanah Bada, berdagang kerbau dan sapi, dan menikah lagi di tanah Bada. Istri kedua Tolabo dari Bada dibawanya ke Lemusa dan menetap di kampung itu.
Versi sejarah lisan lainnya menyebut bahwa etnis Lore/To Bada bisa sampai tinggal di Lemusa karena adanya pemberian tanah oleh raja di masa itu sebagai penghargaan raja kepada warga Lore/To Bada yang sudah membantu raja dalam memenangi perang.
Etnis Kaili Ledo
Etnis Kaili Ledo merupakan etnis yang tinggal di Sulawesi Tengah di sekitar Biromaru, Dolo, Marawola, Palu, Tawaeli, dan tanpa terkecuali wilayah Kabupaten Parigi Moutong, khususnya Desa Lemusa.
Bagi Kaili Ledo, keluarga sangatlah penting. Mereka memberi kehormatan dan ketaatan yang besar kepada orang tua dan menghargai tradisi nenek moyang. Kebanyakan dari mereka mencari penghasilan dari bertani. Warga Kaili Ledo yang ada di Lemusa pada awalnya beragama Kristen sampai pada perkembangannya kemudian etnis Ledo pada masa pemerintahan Raja Tagunu diislamkan. Mereka bangga dengan identitas agama mereka dan berusaha mengikuti pilar-pilar agama. Namun, keyakinan mereka akan dunia supranatural masih terlihat bahkan dikombinasikan dengan kepercayaan religius yang diyakini.
Asal etnis Kaili Ledo di Lemusa adalah dari Raranggonau yang saat ini berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Sigi. Mereka hidup berpindah-pindah untuk bercocok tanam dan menjelajahi hutan hingga sampai di Lemusa, dan sebagiannya kemudian menetap.
Tahun 1930-an warga dari etnis Kaili Ledo yang berasal dari Raranggonau pada awalnya bermukim di Gunung Vatumbaso atau Batu Besar. Raja Parigi atau yang biasa disebut Raja Tagunu menikahi seorang gadis Lemusa dan raja lalu memanggil warga Kaili Ledo yang ada di Gunung Vatumbaso untuk ikut bermukim di Lemusa.
Kisah Orang Bada Bertemu Orang Ledo
Orang Bada bernama Bunta Posiri, Tolabo Kaitu, dan Huwai Tohea bertiga naik ke Gunung Gangga untuk mengambil damar. Ketiganya kemudian ke hulu Sungai Dolago dan melihat ke arah gunung, kepulan asap, dan tiga orang memegang sumpit.
Satu di antara mereka berkata kepada orang Ledo dalam bahasa Ledo sambil mengangkat tangan dan berkata, “kami hi tonana belo nagelo katuvu kami,” artinya, “kita ini mau datang sini untuk mencari hidup,” dan orang Ledo membawa mereka kepada para tetua (tuaka) atau kepala suku.
Kepada tiga orang Bada ini dikatakan, “hitumo sou mo kami, gampiri pae,” artinya, “itu sudah rumah kami,” Gampiri Pae, atau lumbung padi. Warga Ledo ini berasal dari Raranggonau.
Selama sebulan mereka bergaul bersama orang-orang Ledo, lalu satu dari mereka turun ke Parigi untuk membeli kain belacu untuk dijahit sebagai pakaian laki-laki dan perempuan. Warga yang mereka temui hanya berpakaian kulit kayu.
Semua orang-orang yang bertemu itu lalu ke Gangga dan tinggal menetap di sana. Tiga orang Bada ini dianggap sebagai wakil mereka. Ketiganya ke Parigi untuk membeli bahan-bahan makanan. Selama tiga bulan mereka bersama-sama di Gangga dan tertinggal tiga rumah tangga, yaitu Noi, Daralindo, dan Latake.
Kisah Orang Pamona di Lemusa
Awalnya orang tua dari etnis Pamona yang ada di Lemusa adalah orang tua yang bernama Bapak Tamanda Matimbo yang pertama kali menginjakkan kaki di Lemusa. Beliau diangkat oleh raja sebagai pemimpin 30 kepala keluarga dari etnis Pamona yang mendiami Lemusa. Orang tua tersebut menikah dengan anak dari Menggae Tolabo sehingga menetap di Lemusa.
Setelah itu orang-orang Pamona dari bagian selatan berpindah ke Lemusa. Alasan mereka datang ke Lemusa karena mengungsi dari kejaran gerombolan yang membawa orang Pamona dari selatan, yaitu adik dari Tolabo itu sendiri. Setelah itu, dalam perkembangannya, 30 keluarga yang datang ke Lemusa kembali ke tempat mereka masing-masing karena menganggap daerah yang ditinggalkan sudah aman.
Adapun sekarang orang-orang Pamona yang ada dan masih menetap di Lemusa adalah cucu-cucu dari keturunan Tamanda Matimbo karena mereka sudah kawin-mawin dan sudah tinggal menetap di Lemusa.