Agama
Bangsa Indonesia mengakui Pancasila sebagai ideologi negara, sehingga memungkinkan setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, sebagaimana yang termaktub dalam UUD 1945.
Bagi masyarakat yang ada di Lemusa, agama merupakan salah satu faktor yang dominan. Dalam konteks ini, Lemusa adalah gambaran desa yang heterogen. Terdapat 2 (dua) buah masjid, yaitu Masjid Al-Ikhlas dan Masjid Qu-Ba, serta 2 (dua) gereja, yaitu GKST Maranatha dan GPDI Smirna.
Hubungan antar etnis dan agama yang berbeda pada penduduk setempat sangat erat dan saling bekerja sama. Apalagi di antara mereka sudah saling kawin-mawin. Kerukunan ini salah satunya terlihat ketika masing-masing agama atau etnis mengadakan acara perayaan atau hajatan. Masyarakat dari agama atau etnis lain akan diundang dan turut menghadirinya. Jika ada kegiatan-kegiatan sosial atau kegiatan bersama dalam pembangunan, seluruh warga akan berpartisipasi.
Sejarah Masuknya Agama Kristen di Lemusa
Tahun 1948 agama Kristen sudah masuk di Lemusa, dibawa oleh Guru Jumat yang bernama Guru Nikodemus Lakobasi. Guru Nikodemus berasal dari Besoa, Lore Tengah. Beliau mengajar di Sekolah Rakyat Lemusa, mengajarkan ajaran Kristen, ritus ibadah, berdoa, dan menyanyi menggunakan Bahasa Bada karena saat itu orang-orang belum mengetahui bahasa Indonesia. Dalam beribadah pun warga masih mengenakan baju adat Bada yang terbuat dari kulit kayu.
Gereja yang ada saat itu disebut GMIM (Gereja Masehi Injil Minahasa). Bangunannya berdinding pitate dari anyaman bambu dan beratapkan daun alang-alang. GMIM bertahan sampai tahun 70-an, kemudian berganti menjadi GKST yang dibawa oleh Pdt. W.A. Pulu. Bangunan Gereja GKST di tempat yang sekarang ini pada awalnya juga terbuat dari pitate bambu dan beratapkan rumbia (daun sagu).
Sejarah Masuknya Agama Islam di Lemusa
Pada awalnya, sebagian warga Lemusa masih memeluk agama kebudayaan dari para leluhur yang bercorak dinamisme.
Agama Islam yang ada di Lemusa sudah ada sejak tahun 1932, dibawa oleh masyarakat Kaili dari Biromaru. Setelah itu, ada penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Raja Tagunu kepada orang-orang Raranggonau yang bermukim di Gunung Vatumbaso. Raja meminta mereka untuk turun dari gunung dan tinggal di kaki Gunung Lemusa, yang kemudian diislamkan oleh raja. Pemimpin agama Islam pada saat itu ialah Mangge Tahuja.
Kegiatan keagamaan di Lemusa mengikuti kegiatan hari-hari raya keagamaan yang lazim dilakukan, seperti Idulfitri, Iduladha, Natal, dan Paskah.
Di luar kegiatan perayaan keagamaan, anak-anak muda melakukan kegiatan lainnya, seperti remaja masjid yang membuat kebun bersama. Sementara itu, pemuda gereja melakukan kegiatan kunjungan ke wilayah penginjilan di wilayah Ulatan, suku Lauje di Pantai Timur, seraya membuat kebun jagung bersama di lahan pinjaman seluas 1 ha. Hasil panen jagung digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemuda gereja.